Sabtu, 07 Juni 2014

Pemikiran Politik Islam Sayyid Qutb

Sayyid Qutb merupakan salah satu tokoh pemikiran politik Islam yang disegani karena berbagai ide pemikiran politik yang cukup memberikan kontribusi bagi perkembangan politik Islam. Qutb sempat menimba ilmu di Barat yang telah banyak memberikan latar belakang konsep sekularisme yang mulai dianutnya. Namun dikarenakan ketertarikannya pada sosok Hassan Al Banna telah membuatnya merubah haluan.
Perlu diketahui, awalnya Qutb merasa simpati saat Hassan Al Banna dijatuhi hukuman mati akibat bertentangan dengan pemerintah sekuler dalam membangun bangsa. Dimana Hassan Al Banna adalah tokoh yang mengembangkan gerakan muslim berpengaruh dan terbesar yakni Ikhwanul Muslimin (Islamic  Brotherhood) yang memang mendominasi Mesir kala itu, sehingga menjadi sebuah ancaman negara dalam negara  bagi Pemerintah. Akibat peristiwa ini menjadi perenungan kembali oleh Sayyid Qutb hingga kembali ke “masa”nya.
Berbagai pemikiran politik Sayyid Qutb banyak menjadi pengembangan perpolitikan Islam dan membawa pengaruh besar bagi dunia Islam diantaranya beberapa pemikir yang terinspirasi dari sosoknya. Diantara berbagai pemikiran politiknya adalah sebagai berikut :
  1. Sayyid Qutb mengedepankan konsep Self Correction. Yakni kritik atas apa yang terjadi dalam umat Islam (kembalinya pada masa Jahiliyah modern). Hal ini dilatarbelakangi oleh perilaku umat manusia yang mulai meninggalkan pemikiran Islam dan berorientasi pada masalah keduniawian dan materi. Sehingga menurutnya, perlu adanya koreksi diri menuju pada pembentukan masyarakat Islami. Qutb menegaskan terdapat dua konteks masyarakat yaitu Islami (Al Nizam Al Islami) dan Jahil (Al Nizam Al Jahili).
  2.  Peradaban dunia berkembang pada Yunani dan Barat yang memang memfokuskan pada pemisahan konsep ruh dan materi. Kehidupan materi menjadi lebih penting daripada ruh, sehingga hal inilah yang menurut pandangan Sayyid Qutb dapat membahayakan umat manusia. Ia berpendapat bahwa spiritual lebih penting daripada masalah materi. Dimana kebutuhan materi dan spiritual (ruh) memiliki hubungan yang kuat. Justru manusia kini kadang terjebak pada salah satunya, misalnya campur tangan aspek ekonomi dalam spiritual.
  3. Pentingnya tanggung jawab seorang Khalifah dalam menyatukan aspek materi dan spiritual sehingga dapat mengeluarkan manusia dari kejahiliyahan (sistem yang kufur). Jika salah satu aspek menjadi lemah akan menghambat manusia untuk keluar dari kejahiliyahan.
  4. Tantangan pada manusia tidak hanya timbul dari dalam diri atau lingkungan, melainkan perlu diketahui mengenai potensi negatif/setan yang timbul. Potensi ini berupa menjauhkan diri dari kebenaran (kufur), sehingga perlu bagi manusia untuk berada pada jalan kebenaran Allah karena manusia sendiri akan menang jika berada pada jalan yang benar.
  5. Perjuangan masyarakat untuk lepas dari masyarakat jahiliyah modern merupakan suatu jihad yang wajib diperangi. Baik melalui cara-cara persuasif, bahkan dengan ofensif.
  6. Qutb juga menganggap Barat dengan simbol evil (kejahatan). Hal ini didasari oleh penjajah Barat yang sering menindas dan mendzolimi manusia sehingga perlu dilawan. Bagian ini merupakan simbol dari ketidakadilan.
  7. Solusi yang diberikan Qutb adalah open people’s eyes. Yakni kesadaran bagi umat muslim untuk mengetahui bahaya yang mengancam (nature of danger). Sehingga umat manusia dapat lepas dari kejahiliyahan modern.
  8. Namun disisi lain Qutb juga menawarkan pendekatan atau cara yang keras melalui jihad, hijrah, takfir.

Pada dasarnya pemikiran politik Qutb menjadi menarik untuk disimak karena berbagai peristiwa telah mengkonstruksi pemikiran dan pengetahuannya. Qutb juga banyak membawa pengaruh pada pemikiran kelompok teroris Islam serta konsep near enemy (level domestik) dan far enemy (level internasional) yang diimplementasikan jaringan Al Qaeda.

Pemikiran Politik Islam Taqiyuddin An Nabani



Taqiyuddin An Nabani merupakan seorang yang berilmu dan sangat luas keilmuannya. Ia adalah seseorang yang berjasa pada pendirian Hizbut Tahrir yang memang memiliki pengikut diberbagai negara belahan dunia. Ia dilahirkan dari keluarga yang berpendidikan tinggi, dimana ayahnya seorang syaikh yang faqih dan bekerja sebagai guru ilmu syariah, sedangkan ibunya memiliki pengetahuan luas mengenai masalah syariah yang diperoleh dari ayahandanya, Syaikh Yusuf.
Ia memperoleh keilmuwan mengenai kesadaran politik yang didapat dari kakek beliau yang memiliki penguasaan atas masalah politik karena hubungan dekatnya dengan pejabat pemerintahan Daulah Islamiyah. Bahkan ia juga mendapat faedah dengan menghadiri majelis maupun diskusi fiqhiyyah yang didapat dari sang kakek. Dilatarbelakangi oleh kemampuan yang diatas rata-rata, membuat Taqiyuddin An Nabani meneruskan sekolahnya di Universitas Al Azhar, Cairo.
An Nabani menjadi seorang tokoh pemikiran politik Islam yang secara tegas menolak konsep demokrasi. Ia lebih mendorong pada terbentuknya Khilafah Islamiyah yang terbukti memberikan dampak besar bagi kemajuan sejarah Islam. Fokus pemikiran terletak pada hubungan antara kepemimpinan (negarawan) dengan kesejahteraan rakyat, dimana perlu adanya sinergi kuat diantara keduanya untuk menciptakan kemakmuran rakyat. Menurutnya, lemahnya persatuan Islam dalam konflik berkepanjangan Israel Palestina, serta kesadaran melakukan aksi berdasarkan pengalaman melatar belakangi pembentukan Hizbut Tahrir.
Namun dalam pembahasan kali ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai pemikiran politik Taqiyuddin An Nabani :
  1. Pemikiran politik menjadi pemikiran yang paling tinggi. Dimana politik mengedepankan serta mengurusi kehidupan orang banyak yang dilandasi oleh pandangan mengenai Islam. Namun kini terkadang manusia menjadi selfish. Sehingga perlu menggali dan menjunjung aqidah Islam untuk mendorong pemikiran politik. Agama seharusnya masuk dalam konsep pemikiran politik dan berpengaruh pada adanya ideologi dalam spiritual dan politik
  2. Pada dasarnya pemimpin bertanggun jawab baik secara internal maupun eksternal. Yakni orientasi pada negara dan umat, dimana pemimpin tidak hanya mengedepankan kesejahteraan rakyat saja, melainkan mengatur negara atau masyarakat. Peran pemimpin juga banyak berkontribusi dalam taking care of ummah affairs. Yakni kebutuhan pemimpin yang sadar dan berdedikasi tinggi pada urusan umatnya. 
  3. Perlunya sistem khilafah yakni tidak adanya pemisahan dalam kehidupan dan agama. Mengapa An Nabani mengutamakan pentingnya sistem Khilafah ? Ini dilatarbelakangi oleh urusan umat Islam yang semestinya dikendalikan oleh Kholifah (pemimpin yang peduli rakyat). Selain itu sistem Khilafah juga mendorong hubungan antara pemerintah dengan rakyat (mutual relations), penerapan hudud, menjaga moral dalam masyarakat (ibadah, sektor publik sesuai nilai Islam).
  4. An Nabani juga menolak sistem masyarakat Barat yang berorientasi pada elite berkuasa yang mengatasnamakan rakyat (demokrasi). Ia beranggapan bahwa demokrasi merupakan sistem yang dibuat oleh manusia dan bertentangan dengan syariah. Inilah yang melatarbelakangi keputusannya yang kontra dengan Barat dan konsep demokrasi.
  5. Mengenai konsep pemimpin, ia memilih pada seorang maupun tokoh negarawan yang mempunyai mentalitas untuk menyelesaikan dan mengontrol permasalahan rakyat. Negarawan lebih memprioritaskan dirinya untuk berfikir dan berdedikasi untuk rakyat. Juga mengutamakan pentingnya dakwah untuk memunculkan negarawan.
  6. An Nabani juga berfikir dalam menjamin pendidikan. Dimana pendidikan melahirkan orang-orang mau berfikir, sehingga timbullah konsep budaya berfikir yang berkembang menjadi Ilmu Pengetahuan. Sehingga memunculkan kesadaran politik sebagai alat untuk political struggle.
Pemikiran politik Taqiyuddin An Nabani telah mengeluarkan banyak buku yang juga menginspirasi banyak orang melalui idenya. Bahkan pembentukan Hizbut Tahrir menekankan dalam pemahaman mengenai peta situasi internasional. Gerakan ini telah meluas bagi jutaan manusia yang mendukung dan mengemban pemikiran-pemikirannya.